Senin, 09 Juli 2012

Selasa, 01 Mei 2012

  Judul    : Terjajah
Media  :  Derawing on paper
Size      : A4
Karya   : Eddi hariyadi (edi fals)

Konsep karya…
Tatkala kau tumbuh
Rapi nan elok bak surge duniawi
Keindahanmu mengisaratkan dedaunan
Yang terustumbuh di batang kesetiyaan
Meski kini kau berguguran
Di tanah nantandus
Keinginan anak bangsa selalu ada
Musim semi
Dimana batang kan menumbukan secungkup daun nan baru
Agar penerus bangsa takan sirna

Kadang pencemaran bukan melalui fiksi
Melainkan dari diri kita sendiri dan dorongan dunia luar
Budaya luar merajalele hingga kita hilang kepribadian
Di mana indonesaku yang dulu yang penuh pesona dan intrik
 
Penjelasan karya
Di sini saya menerapkan bangsa indonesa ibarat daun berguguran,daun yang besar yang retak dan tertusuk paku,di tarik oleh tambang,tertusuk daun kecil itu semua menggisaratkan bangsa kita kurang tegas dalam menyikapi budaya luar yang masuk ke Negara kita seolah 2 kita tak berdaya di buat olehnya keinginan kita pertahankan,budaya dan moral kita agar menjadi Indonesia yang penuh pesona jangan sampai di racuni oleh budaya luar yang masuknya sangat halus kita tak terasa kalaukita terjajah,akankah kita berhenti terjajah  

Minggu, 08 April 2012

semrawut surabayaku

Judul    : Semrawut surabayaku
Media  :  paper  on derawing
Size      : A4
Karya   : Eddi hariyadi (edi fals)
Konsep karya
Kuingin kau seperti dulu elok nan molek
Tak ada campur tangan manusia yang dusta
Di setiap nafasmu menarik kehidupan desa

Tapi nkini kau sumpek bak sampa Yang bertebaran
Kadang kala kau tumbang
Kadang kala kau terbakar
Tak ada damai di setiap nafasmu

Sikut-sikutan seakan-akan sarapan di pagi hari
Kemacetan seperti denyut jantung mu
Gedung pencakar langit bak bulu romamu
Baliho dan reklame adalah baju yang terpakai kala usang kan tergantikan
Satu sama lain takada yang tau
Emang engkau metropolitan
Selalu jadi tumpuan orang yang ingin kemewahan dan kemunafikan…

Penjelasan karya
Karya ini mengambarkan kota pahlawan yang semakin hari semakin semrawut ,sumpek terlalu banyaknya penduduk dan gedung pencakar langit , mungkin bias ditafsirkan selaksa gado-gado kenapa dalam lukisan ini menampilkan banyak obyek-obyek figure-figur yang saya reprensentasikan secara berhimpitan ,berjalan saling berebut perhatian ,bertubrukan saling silang seperti yang terjadi di Surabaya coba perhatikan, betapa banyak obyek atau figur yang tampil pada lukisan ini lalu tek-tek yang bermunculan  menghiasi kota Surabaya seperti baju, apakah itu berupa gedung ,papan reklame,iklan,mengibaratkan tek-tek yang terus mengepung kota Surabaya
Saya mempersepsiksikan kota Surabaya yang sumpek dan semerawut yang penduduknya indifidualistik dan matrialistik,dan lukisan ini menguarkan pernyatan siapapun yang hidup di Surabaya lambat laun akan tergerus menjadi manusia individual yang harus tutup mata dan pura-pura tidak tau persoalan orang lain untuk itulah 3 figur yang saya tampilkan yang matanya sengaja di kasi hijab(penutup),hidup di Surabaya sungu berat  tidak seindah di bayangkan oleh masarakat desa yang setiap habis idulfitri berdatangan menjadi pendududk baru Surabaya dengan profesi menjadi pembantu ruma tangga atau pekerja keras lainya,Surabaya sebenarnya bukan surga : Surabaya hanyalah kota utopia.ada banyak hambatan rintangan yang membelenggu,saya menampilkan belengu itu ada figure yanga di tututp matanya dan yang di bedong seperti bayi .
Berbagai fenomena dan insiden yang terjadi di Surabaya dalam bentuk symbol –simbol kobaran api yang tampil dalam lukisan itu,adalah gambaran kebakaran yang sering terjsdi di Surabaya ,yang cukup mmenonjol di nlukisan ini otak mmanusia yang terbang di dalamnya ada gedung dan juga monas ,ini adalah gambaran Surabaya adalah Jakarta yang kedua symbol yang lain nya otak yang di bawah bertulisan damai di sisilain orang Surabaya ingin kedamaiyan seperti sedia kala.

Senin, 19 Maret 2012

waktu kau berjalan


Judul   :waktu ku berjalan
Media   :drawing on paper
Size    :A4
Thn pem :29-02-2012
Karya   :eddi hariyadi S.Pd(edi fals)

ada dua tahap dalam penyelesain karya tersebut,

Konsep karya’

Menit dan detik selalu bersamaan
Dalam mengitari relung yang berdimensi
Waktu terus berjalan di setiap gugurnya dedaunan
Menandakan takan perna kembali pada batang yang rapuh

Meski kau trus berjalan kuinggin melangka demi setapak lebih baik
Tuk gapai sesuatu yang ada
Karna sekali melangka
Kita kan terus berjalan
Menelusuri relung-relung

Agar tak menyesal di kala kan datang
Seperti tetesan embun di kala pagi selalu tebarkan senyuman...


Penjelasan karya

Karya ini menjelaskan tentang waktu yang terus berjalan,yang selalu dan takkan perna kembali ke belakang,jadi di kehidupan ini selalu berbuatlah yang baik tidak merugikan orang lain agar kita tidak menyesal dikemudian hari seperti figur daun yang berguguran dia kan selalu kebawah dan kebawah,mustahil untuk kembali ke tangkainya,
Seperti jam dinding yang meleleh selaksa tak berarti dalam kehidupan ini huruf wawu yang reta-retak seolah-olah tak sangup lagi dalam mengarungi kehidupan yang terus bermasalah, dan figur yang paling menonjol adalah lafal walasri:artinya demi masa yang di maksud adalah sesungguhnya manusia di bumi ini dalam keadaan merugi jadi kita sebagai mahluk tuhan selayaknya menafsikan kehidupan ini dengan sebaik mungkin...